Modul : Ilmu Pelayaran Astronomi

Kompetensi : Uraian Materi

Waktu Dan Perataan Waktu

Uraian Materi


Pengaturan waktu

  1. Waktu bintang (Siderial Time)

Menurut Soebekti (1979) dalam Martopo (1992), bahwa Waktu bintang (*) = Sudut Jam Barat Aries ( γ), dimulai saat titik Aries ( γ) melewati derajah atas penilik

Waktu bintang = Sudut Jam Barat Aries (γ) + Rambat lurus γ

Untuk waktu bintang (*) dimulai pada saat titik Aries (γ ) melewati derajah atas

 

  1. Waktu matahari (Solar Time)

Waktu Matahari (?) sejati = Sudut Jam Barat matahari (?) sejati  + 12 jam

Menurut Soebekti (1979), matahari (?) sejati  ialah : matahari yang sesungguhnya yang dapat dilihat dan dirasakan panasnya oleh manusia di  bumi. Matahari sejati mempunyai kecepatan edar yang tidak konstan/tetap. Waktu Matahari (?) sejati ialah : waktu yang diatur menurut peredaran matahari sejati. Jam 00.00 ditentukan pada saat matahari berembang bawah dan jam 12.00 pada saat matahari berembang atas.

 

Waktu berembang atas matahari, dalam almanak nautika disebut dengan nama MERIDIAN PASSAGE disingkat MER.PASS, dan dinyatakan dengan waktu menengah.

 

Matahari (?) menengah ialah sebuah matahari khayalan yang beredar dengan kecepatan konstan. Matahari khayalan ini hanyalah benda angkasa khayalan yang tidak terlihat oleh siapapun.

Waktu matahari (?) menengah ialah waktu yang diatur menurut matahari menengah. karena kecepatan edar matahari menengah ini konstan, maka jalannya waktu menengah akan konstan pula, dengan demikian dapat digunakan sebagai dasar pembuatan jam waktu yang selalu digunakan oleh manusia ialah waktu menengah.

Waktu matahari (?) menengah = Sudut Jam Barat matahari (?) menengah  + 12 jam.

 

Dalam navigasi astronomi dikenal beberapa pengaturan waktu sebagai berikut :

Local Mean Time (LMT) = Waktu menengah setempat

Greenwich Mean Time (GMT) = Waktu Menengah Greenwich

Standard Time = Waktu tolok (seperti WIB, WITA, WIT)

Zone Time = Waktu zone (dibagi dalam 24 zone) pada setiap 150 selisih bujur.

 

  1. Perataan waktu atau Equation of Time.

Waktu menengah tidak selalu sama dengan waktu sejati, selisihnya dikenal dengan nama perataan waktu atau Equation of time. Nilai perataan waktu ini dapat dilihat pada almanak nautika dibawah judul Eqn of Time, untuk tiap-tiap hari pada jam-jam 00.00 dan jam 12.00 waktu sejati (lihat halaman extract Almanak Nautika dalam lampiran)

Rumusnya : Waktu sejati = waktu menengah + perataan waktu  

Contoh : Pada tanggal 10, 11 dan 12 Mei 2018, dari almanak nautica diperoleh data sebagai berikut :

Day

SUN

Eqn.of Time

Mer.Pass

00 h

12 h

10

03:35

03:37

11:56

11

03:38

03:38

11:56

12

03:39

03:40

11:56

Penjelasan untuk pembacaan Mer. Pass pada tabel diatas :

Pada tanggal  10 Mei, matahari berembang atas jam 11.56 waktu menengah, sedangkan perataan waktu adalah 03m 37s yaitu 03 menit 37 detik.

Pada tanggal  11 Mei, matahari berembang atas jam 11.56 waktu menengah, sedangkan perataan waktu adalah 03m 38s yaitu 03 menit 38 detik.

Mer.Pass yang diberikan dalam Almanak Nautika, dibulatkan sampai menit penuh. Waktu sejati pada saat matahari berembang atas yaitu jam 12.00 tepat. Karena perataan waktu 03m 38s, maka sebenarnya waktu menengah saat matahari berembang atas ialah jam 11h 59m 38d yang kalau dibulatkan ke menit penuh menjadi jam 12.00

Disini waktu menengah =11.56 dan waktu sejati 12.00 maka nilai perataan waktu ialah 3 menit 38detik

Kita masukkan ke dalam rumus : waktu menengah + perataan waktu = waktu sejati; 11.56 + 3m38detik =  11.59.38 dibulatkan menjadi jam 12.00

 

  1. Selisih waktu = selisih bujur

                                                                                                  Credit: Silvester

Gambar 47 : Ilustrasi perhitungan selisih waktu = selisih bujur

         Keterangan gambar 47 : M = Titik pusat bumi dan angkasa ;  titik A dan B = dua tempat di bumi; Normal MA dan MB memotong angkasa di titik TA dan TB; ? m = matahari menengah berada di sebelah barat TB.

       

         Rumus : Selisih waktu = Waktu menengah A – Waktu menengah B

                                     = ( SJB ? A + 12 ) – ( SJB ? B + 12 )

                                     = SJB ?A – SJB ?B

                                     =     P1,2 -     P1

                                         =      P2

                                     = selisih bujur    

       Catatan :  

           1 jam waktu      =  150 selisih bujur

           1 menit waktu   =  15’ selisih bujur

           1 detik waktu    =  15” selisih bujur

 

            600 bujur    = 4 jam waktu

            10 bujur      = 4 menit waktu

            1’ bujur       = 4 detik waktu

 

  1. Waktu menengah setempat (Local Mean Time/LMT)

Menurut Soebekti (1979), waktu menengah setempat adalah waktu menengah yang menjadi dasar untuk suatu tempat jika Sudut Jam Barat (SJB) setempat (LHA=Local Hour Angel) dihitung ke arah barat, mulai dari derajah tempat tersebut.

            Rumus : LMT =  LHA ? menengah  ± 12 jam,  atau “sebagian busur pada katulistiwa,

            mulai dari derajah bawah ke arah edaran harian maya,  sampai pada matahari menengah”

            Rumus  :

            LMT = GMT + EL (East Latitude = Bujur Timur) dalam waktu

            LMT = GMT – WL (West Latitude = Bujur Barat) dalam waktu

 

  1. Waktu Menengah Greenwich (GMT)

GMT adalah waktu menengah setempat pada derajah Greenwich (derajah 0 derajat)

Rumus : (GMT = ? m GHA + 12 jam) dipakai sebagai argumen untuk masuk dalam almanak nautika.

LMT di Greenwich = 15.00 sedangkan ? m LHA = 03 jam, jadi GMT = ? m GHA + 12j

LMT di Greenwich = 09.00 sedangkan ? m LHA = 21 jam, jadi GMT = ? m GHA - 12j

                                                                            Credit: Silvester

Gambar 48 : Ilustrasi  perhitungan jam GMT

  1. Waktu Tolok (Standard Time = ST)

Waktu Tolok (Standard Time = ST) adalah waktu menengah yang berlaku bagi suatu wilayah negara, dan yang tidak selalu sama dengan waktu Mintakad (Zone Time), sehubungan dengan kepentingan lalu lintas di negara yang bersangkutan.

Dalam almanak nautika kita dapati untuk berbagai negara, jumlah waktu yang harus dijabarkan dengan tandanya pada waktu tolok, guna mendapatkan GMT. Untuk wilayah waktu Negara Kesatuan Republik Indonesia selisih waktu tolok dengan GMT sebagai berikut :

WIB   = GMT + 7 jam

            WITA = GMT + 8 jam

            WIT   = GMT + 9 jam

 

  1. Waktu Mintakad (Zone Time = ZT)

Waktu Mintakad adalah waktu menengah pada derajah pertengahan zone (derajah ) yang bersangkutan. Bumi dibagi dalam 24 bagian yang dibatasi oleh lingkaran-lingkaran bujur dengan delta bujur 150. Semua tempat di dalam satu zone mempunyai waktu yang sama, jika kapal melewati batas zone ia harus merubah waktunya satu jam penuh. Dengan demikian maka waktu di kapal berjalan menurut Waktu Mintakad. Zone-zone tersebut diberi nomor mulai dengan Zone Nol yang membentang 7,5 derajat sebelah menyebelah derajah nol di Greenwich.  Zone (+) 1 : 7,5 derajat sebelah menyebelah bujur 150 Barat, Zone (+) 2: berpusat pada bujur 300 Barat dan seterusnya..

Zone-zone yang bersamaan ke arah Timur, diberi nomor (-)1, (-)2 dst. Zone yang ke 12 berpusat pada bujur 1800 sebagian terletak di bujur Timur dan disebut Zone (-) 12 dan yang sebagian lagi di bujur Barat, yakni zone (+) 12.

Nomor-nomor dengan tandanya masing-masing itu disebut : Zone Description (ZD) dan bagi suatu tempat ia merupakan koreksi yang harus dijabarkan pada ZTnya guna mendapatkan GMT. ZD bagi suatu tempat di bumi dapat ditentukan dengan jalan membagi  bujurnya dengan 15, dan dibulatkan menjadi jam penuh yang terdekat serta dibubuhi tandanya yang benar  BT (-) dan BB (+).

                                                                                                                                                 Credit: Silvester

Gambar 49 : Batas-batas zone setiap 150 bujur di bumi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                                                  Credit: Silvester

                                         Gambar 50 : Pembagian zone time secara garis besar di seluruh dunia

 

Menjabarkan ZT ke GMT dan sebaliknya

       Untuk kepentingan ini jabarkanlah ZD pada ZT, sesuai dengan tandanya. Sebaliknya untuk mengubah GMT menjadi ZT, pakailah ZD dengan tandanya berlawanan.

 

Contoh 1 : Carilah GMT, jika ZT pada bujur duga 1290 52’,5B adalah 08-37-20.

            Jawab : ZT     = 08-37-20.

                         ZD     = (+) 9

                         GMT  = 17-37-20

Contoh 2 : Carilah ZT pada bujur duga 066023’T, jika GMT adalah 03-25-26

            Jawab : GMT   = 03-25-26

                          ZD      = (-) 4      -

                          ZT       = 07-25-26

 

  1. Garis batas tanggal internasional

      Tiap 150 bujur suatu tempat yang terletak disebelah timur dari Greenwich, maka LMT-nya adalah 1 jam lebih siang (+) dari GMT. Untuk tiap 150 bujur  suatu tempat yang terletak disebelah barat  dari Greenwich, maka LMT-nya adalah 1 jam lebih pagi (-) dari GMT. Apabila kita mencapai bujur 1800 dari Greenwich ke arah Timur atau Barat, selalu kita dapati perbedaan waktu 24 jam (= 1 hari) antara ke dua tempat ini.

 

  • Batas tanggal Nautik :

Lingkaran bujur 1800 disebut Batas Tanggal Nautik. Garis batas tanggal nautik menggunakan tepat bujur 1800 Timur/Barat, setiap kapal atau pesawat terbang yang melewati garis ini harus merubah tanggalnya 1 (satu) hari. Jika berlayar ke arah Timur serta melewati Batas Tanggal Internasional, yakni ketika beralih dari Bujur Timur ke bujur Barat, maka tanggal di kapal harus dikurangi (-) satu hari

Jika berlayar ke arah Barat serta melewati Batas Tanggal Internasional, yakni ketika beralih dari bujur Barat ke bujur Timur, maka tanggal di kapal harus ditambah (+) satu hari.

Misalkan sebuah kapal bertolak pada siang hari tanggal 2 Mei dari A di bujur Timur untuk tiba di B di bujur barat, pada siang hari berikutnya. Maka kita dapati ringkasan sebagai berikut : Haluan ke arah Timur

Dalam buku harian kapal : sebagai tanggal tolak dari A dicatat 3 Mei, satu hari kemudian di B, kita harus mencatat sebagi tanggal tiba 3 Mei. Jadi tanggal 3 Mei itu dicatat dua kali (lihat gambar slide 20).

Apabila kita berlayar ke arah berlawanan, maka keadaannya sebagai berikut : Haluan ke arah Barat

Didalam buku harian kapal.  Sebagai tanggal tolak dari B dicatat 2 Mei, satu hari kemudian, di A kita harus mencatat sebagai tanggal tiba 4 Mei. Jadi tanggalnya diloncati satu hari.

Contoh soal :

Pada Pkl. 18.00 (ZT) tanggal 24 Juni, kapal berada di bujur duga 179000’B. sepuluh jam kemudian kapal tiba di bujur 179000’T. Hitunglah : ZT yang baru dan tanggalnya.

  

Jawab : Tolak ZT   = 18-00 (24 Juni)

                 ZD            = +12-00        +

                 GMT         = 30-00 (24Juni)

                                     06-00 (25 Juni)

   lamanya berlayar   = 10-00         +

                 GMT         = 16-00 (25 juni)

                 ZD            = - 12-00           -

       Tiba = ZT           = 28-00 (25 Juni)

                                  = 04-00 (26 Juni )

 

  • Batas Tanggal Sipil:

               Batas tanggal sipil menyimpang  di sana sini dari Batas Tanggal Nautik. Arah garis batas tanggal sipil dibelokkan jika melewati daratan, misalnya Siberia Timur sampai Laut Bering menggunakan “tanggal Asia”, Kepulauan Fiji menggunakan “tanggal Australia”, kepulauan Aleut menggunakan “tanggal USA” (lihat gambar 28 berikut ini.

                                                                                                                                                  Credit : Silvester

Gambar 51 : Garis batas tanggal nautik dan batas tanggal sipil

 

4.5.1.2. Penunjuk Pengukur waktu (Chronometer)

          

         Sebagai penunjuk pengukur waktu (ppw) di kapal, biasanya menggunakan Chronometer dan waktu yang ditunjukkan adalah waktu GMT. Alat ini dipakai pada pengamatan benda angkasa untuk mencatat waktu pengamatan secara akurat. Ada dua macam bentuk chronometer yaitu traditional marine chronometer (mekanik) dan chronometer berbentuk electronic quartz crystal chronometer. Chronometer  mekanik di kapal harus diputar setiap hari pada waktu yang sama, kemampuan putaran untuk menggerakkan alat tersebut adalah 56 jam (dapat dibaca pada indicator), namun pada quatz crystal chronometer hal ini tidak lagi diperlukan bahkan beberapa kapal digabung sebagai master clock (jam induk) dengan beberapa repeaters di ruangan lainnya.

  1. Chronometer tradisional

Biasanya chronometer diletakkan pada sebuah kotak khusus berkaca dan diikatkan pada sebuah cincin lenja yang memungkinkan untuk selalu dalam posisi mendatar. Kumparan baja harus tidak boleh mendapatkan medan magnit, karena itu chronometer harus disimpan pada tempat yang benar-benar bebas dari medan magnit, peralatan elektronik dan kabel listrik.

Menurut Pardi (1954) dalam Palumian (1985), penempatan sebuah chronometer sebagai berikut :

  • Ditempatkan di kamar peta
  • Chronometer disimpan di dalam kotak chronometer (kotakluar dikeluarkan) yang diisi dengan bantalan, supaya kotak tidak mudah bergeser
  • Kotak chronometer harus jauh dari dinding bangunan deck dan lain-lain untuk menghindari getaran.
  • Tempatnya tidak boleh basah, tidak boleh dekat dengan dynamo atau aliran listrik
  • Selalu ditempatkan di tempat yang suhunya teratur.

                                         Photo credit: Nicholls

Gambar 52 : Chronometer tradisional yang lebih modern lengkap dengan kotaknya

 

Menghidupkan chronometer tradisional

      Peganglah chronometer dengan tangan. Sesuai dengan waktu yang disyaratkan, putarlah badan chronometer secara perlahan-lahan mengikuti putaran pergelangan tangan.

Memulai menghidupkan chronometer mengikuti isyarat waktu (time signal).

Cara menghidupkan sebuah chronometer saat berada  di laut   harus dimulai dengan urutan  sebagai berikut :

  • Bukalah kaca chronometer di depan anda (lihat gambar 52)
  • Pasanglah kunci pemutar yang ada dalam “kotak” di tengah bagian menit.
  • Dengan kunci pemutar, putarlah bagian menit hanya ke arah depan, Tetapkan jam dan menit sesuai dengan isyarat waktu berikutnya. Jangan sekali-kali menyentuh bagian detik.
  • Tutuplah kaca chronometer.
  • Diamkan chronometer, secara perlahan-lahan letakkan pada posisi “diam” untuk menghindari gangguan saat memulai (starting).
  • Menunggu saat isyarat waktu dan saat mendengar siaran isyarat waktu, mulailah menghidupkan chronometer dengan memutar chronometer secara perlahan-lahan mengikuti gerakan pergelangan tangan (lihat penjelasan sebelumnya)
  • Periksalah sesegera mungkin kesalahan (duduk) yang terjadi setiap hari melalui isyarat waktu setelah menghidupkan chronometer

Memutar chronometer tradisional

      Pada waktu memutar chronometer dapat dilakukan sebagai berikut :

  • Balikkan chronometer ke arah bawah bagian melalui cincin lenja secara perlahan-lahan.
  • Peganglah dengan kokoh melalui tangan kiri.
  • Ambillah kunci pemutar (winding key) dengan tangan kanan.
  • Gunakan satu jari pada tangan kiri, lalu buka penutup
  • Masukkan kunci pemutar dengan tangan kanan
  • Putarlah perlahan-lahan ke arah kiri (berlawanan dengan arah jarum jam), sambil menghitung jumlah putaran.
  • Setiap dua hari chronometer harus diputar, kira-kira sama jumlahnya setiap kali memutar dan dibutuhkan sekitar 7½ kali putaran.
  • Chronometer akan bekerja secara maksimal dengan periode waktu kira-kira 54 jam tanpa memutar ulang

                                                                                      Photo credit: Nicholls

Gambar 53 : Pada gambar a cara membuka katup pengaman (bezel), gambar b cara melepaskan mangkuk penutup (sungkup) dan memperlihatkan gerakan bagian-bagian chronometer, gambar c memperlihatkan palang pengunci gerigi pengimbang (Balance Wheel Cross Bar) (huruf A), cara melepaskan  penyangga gerigi pengimbang ( huruf B), gambar d cara melepaskan penyangga ketiga yang mengganjal di gerigi  (huruf C)

  1. Quartz crystal chronometer

             Secara umum quartz chrystal chronometer relative lebih ringan dan mudah dibawa. Chronometer ini dibaluti dengan bahan yang tahan agar debu dan semburan air tidak masuk, kotaknya, digambarkan sebagai bahan yang harus melalui pengujian yang ketat untuk goncangan, getaran dan suhu yang ekstrim. Contoh pada gambar 53 menunjukkan chronometer yang memiliki cara penanganan yang cemerlang dan dioperasikan dengan dipenjet, ditempatkan dalam sebuah console atau kotak. Jenis chronometer ini digerakan dengan daya listrik sebesar 1,5 volt, dengan battery alkaline yang harus dipasang kembali paling kurang setahun sekali. Battery cadangan selalu disiapkan dalam kotak. Sama dengan chronometer tradisional, chronometer elektronik ini (quartz crystal) lebih kecil akurasi kesalahannya (duduk), diklaim sama perusahannya rata-rata stabiltas kesalahannya per hari adalah 0.1 detik.  

 

                 Photo credit: Nicholls

Gambar 54 : Sebuah Quartz crystal chronometer buatan Kevin Hughes type TC Chronometer

                                    Photo credit: Nichols

Gambar 55 : Kotak chronometer buatan Kevin Hughes, battery cadangan yang dapat dilepas

                                                              Photo credit: Bowditch

Gambar 56 : Sketsa tampak dari atas sebuah Quartz crystal chronometer 

 

          Memulai menghidupkan Quartz crystal chronometer  (buatan Kevin Hughes) mengikuti isyarat waktu (time signal), menurut Coolen (1987) sebagai berikut :

  • Lepaskan chronometer dari kotak
  • Tekan tombol “stop
  • Tarik keluar tombol “hand set” dan putar perlahan-lahan ke arah yang ditunjuk lalu tetapkan ke waktu yang akan disiarkan melalui isyarat waktu berikutnya. Lepaskan tombol “hand set
  • Menunggu isyarat waktu dan pada saat siaran terdengar, lepaskan tombol “stop
  • Pasang kembali chronometer dan kancing ulang secara erat sekrup yang ada di belakang piringan.
  • Periksalah sesegera mungkin kesalahan (duduk) yang terjadi melalui isyarat waktu setelah menghidupkan Quartz crystal chronometer.

                                                                          Photo credit: Nicholls

Gambar 57 : Tekan kebawah tombol “stop” (gunakan jempol kanan) dan operasikan tombol “hand set” (gunakan jempol dan telunjuk kiri)

Pemasangan ulang battery

  • Lepaskan rakitan chronometer
  • Lepaskan battery lama yang terbawa selama beberapa waktu dalam kotak
  • Gunakan label battery yang ditetapkan, lepaskan pembungkus battery
  • Gantilah battery tersebut dan segera buanglah battery yang lama
  • Masukkan battery kedalam tempatnya secara perlahan dan catatlah tanggal memasukkan battery baru di tempat yang tersedia.
  • Pasang ulang chronometer tersebut, dengan memutar erat skrup yang ada di belakang kotak
  • Periksa ulang kesalahan (duduk) sesegera mungkin.

 

Beberapa istilah terkait dengan kesalahan (koreksi) chronometer menurut Soebekti (1979) :

  • Duduk pengukur waktu (chronometer error = CE) : selisih waktu antara ppw dan GMT atau jumlah waktu yang harus dijabarkan pada ppw untuk mendapatkan GMT

Selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, sistematis pengukur waktu yang tradisional (mekanis)telah digantikan oleh pengukur waktu quartz. Disini dipakai kristal quartz yang sangat tipis, untuk lebih menjamin kestabilan frekuensi oscilator elektronik. Stabilitas pengukur waktu (chronometer) yang lebih modern ini jauh melampau rancangan pengukur waktu mekanis (tradisional) yang lama. Nilai langkah harian sangat kecil, yaitu lebih kecil dari 0,01 detik terhadap langkah harian rata-rata (0,2 detik tiap hari)

Navigator tidak perlu memutar jarum chronometer  untuk menghilangkan duduk, tetapi cukup mencatat secara teliti besarnya duduk tersebut setiap hari dengan cara membandingkan waktu memakai isyarat waktu (time signal), yang dipancarkan oleh station radio tertentu.

Duduk disebut postip (+) jika ppw lebih lambat dari GMT dan disebut negatip (-) jika lebih cepat dari GMT.

Harus selalu dinyatakan < 6 jam, artinya duduk (+)8j-20m-00s, harus ditulis :  (-) 3j-40m-00s.

  • Lalu pengukur waktu (chronometer rate): jumlah waktu perubahan dalam duduk, selama jangka waktu tertentu, yang tidak sama dengan 1 hari (24 jam). Lalu disebut positip (+) jika pengukur waktu berjalan lambat (losing), lalu disebut negatip (-) jika pengukur waktu berjalan cepat (gaining).
  • Langkah pengukur waktu (daily rate): Jumlah waktu perubahan dalam duduk selama 1 hari (24 jam)

Langkah disebut postip (+) jika pengukur waktu berjalan lambat (losing), langkah disebut negatip (-) jika pengukur waktu berjalan cepat (gaining).

 

Rumus untuk menentukan duduk, lalu dan langkah :

GMT = ppw + ddk

Ddk = GMT – ppw

 <1 hari atau> 1 hari

            lalu            = duduk baru – duduk lama

           duduk baru = duduk lama + lalu

Dalam 1 hari :

            langkah       = duduk baru – duduk lama

           duduk baru  = duduk lama + langkah

 

  • Menentukan duduk dan langkah

       Duduk dan langkah ditentukan dengan pertolongan isyarat waktu radio ( Radio Time Signal ) pada jam GMT yang telah ditentukan. Selisih antara GMT yang sebenarnya dengan  ppw memberikan duduknya. Di Indonesia, waktu penyiaran Radio Jakarta setiap hari pkl. 00.55 s/d 01.00 GMT (= pkl 07.55 s/d 08.00 WIB). Skema penyiaran dengan sistem “ONOGO”

        Pada umumnya duduk dan langkah ditentukan melalui isyarat-isyarat waktu radio. Suhu udara merupakan faktor utama yang mempengaruhi pembagian waktu yang pendek, sehingga langkah pengukur waktu akan membesar, jika suhu udara semakin naik.

Langkah konstan  pada pengukur waktu yang baik merupakan ciri-ciri yang penting, karena memungkinkan navigasi aman dalam pelayaran yang panjang tanpa tergantung pada isyarat-isyarat waktu.

 

Skema penyiaran “Sistem ONOGO”

CQ (3x) de PLC/PKI

  • ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (titik setiap sekon)

             ———————  = 00.57.00 GMT

            X — ? ? — ( 5 x )

  • ? ? ? ? ? ?       = 00.58.00 GMT

            N — ?         ( 5x )

  • ? ? ? ? ?        = 00.59.00 GMT

            G — — ?    ( 5 x )

  • ? ? ? ?       = 01.00.00 GMT

           

Selain langkah itu harus sekecil mungkin, yang lebih penting lagi adalah konsistensinya. Langkah tersebut dapat ditentukan oleh pencocokan dengan isyarat waktu radio yang ditilik dalam selang waktu beberapa hari tertentu.

 

4.5.1.4. Perhitungan pencarian waktu

Contoh 1 :

Isyarat waktu radio (Jakarta) diberikan pada tiap pkl.08.00 WIB. Tanggal 10 Mei : isyarat ditilik pada ppw = 01-35-20, tanggal 13 Mei : isyarat ditilik pada ppw = 01-35-26.

            Hitunglah : a. Kedua duduk pada saat tersebut dan langkahnya.

  1. Duduk pada 07 GMT, 14 Mei

Jawab :

                      10 Mei : WIB = 08-00-00             13 Mei : WIB = 08-00-00

           ? tolok          = - 7-00-00 +                  ? tolok    = - 7-00-00 +

           GMT             = 01-00-00                     GMT       = 01-00-00

            ppw 1          = 01-35-20 -                   ppw 2       =01-35-26  -

a). Ddk 1           = (-)0-35-20          ddk 2        = (-) 0-35-26

                                                        ddk 1        = (-) 0-35-20 -

                                          Lalu dalam 3 hari   = (-) 6 s

                                          Langkah 1/3 x (-)6s = (-)2s

b). Ddk 01 GMT, 13 Mei = (-) 0-35-26

     Lalu = 1 6/24 hari x (-) 2s = (-)       02,5   +

     Jadi duduk 07.GMT, 14 Mei  = (-) 0-35-28,5.

Contoh 2 :

            Di suatu tempat, pada bujur 80000’B, isyarat waktu radio diberikan pada tiap pkl. 08-00 ZT. Tanggal 20 Juni : isyarat ditilik pada ppw = 12-36-27. Tanggal 27 Juni : isyarat ditilik pada ppw = 12-36-06

            Hitunglah : langkah harian dan duduk pada 01 GMT, 28 Juni.

           

Jawab :

            20 Juni : ZT  = 08-00-00                 27 Juni : ZT  = 08-00-00

                          ZD  = (+) 5      +                             ZD   = (+) 5   +

                         GMT= 13-00-00                             GMT = 13-00-00

             ppw 1 = 12-36-27  -              ppw2   =12-36-06  -

a).       Ddk 1   = (+)0-23-33              ddk 2   = (+) 0-23-54

                                                          ddk 1    = (+) 0-23-33  -

                                            lalu dalam 7 hari = (+) 21s

                                            jadi langkah:1/7 x  (+) 21s  = (+) 3s

b). Ddk 13 GMT 27 Juni           = (+) 0-23-54

            lalu 12/24 hr x (+)3 s     = (+)         01,5   +

    Jadi ddk 01 GMT, 28 Juni    =  (+) 0-23-55,5

 

  • Menentukan GMT

      Pengukur waktu hanya berjalan sampai 12 jam, sehingga ia tidak dapat menunjukkan apakah di Greenwich  itu pagi atau sore, serta tanggal berapa di Greenwich itu. Dengan pertolongan tanggal, waktu di kapal atau bujur duga, kita dapat memeriksanya bahwa GMT yang diperoleh adalah pagi ataupun sore serta tanggal berapa di Greenwich itu.

Contoh 1 :

Pada tanggal 9 Maret 2018 di bujur duga 1260 08’T kira-kira pkl 07.15 waktu di kapal, diadakan pengamatan matahari pada ppw = 10-14-32. Duduk pada 01 GMT, 6 Maret = (+) 0.22.17. Langkah harian = (-) 2,0 sekon. Hitunglah GMT dan tanggal ketika pengamatan. 

 

            Wkt duga di kapal      = 07.15.00           9 Maret

            BT dlm wkt                 = 08.24.32 -

            GMT duga                   = 22.50.28           8 Maret

            ppw                              =   10.14.32

            Ddk 01 GMT,6Mrt      =(+)0.22.17 +

            GMT mendekati           =   22.36.49        8 Maret

            Lalu 2 22/24 hr x (-)2s  = (-)05,8

            GMT                             = 22.36.43,2       8 Maret   

Contoh 2 :

Pada tanggal 20 Januari 2018 di bujur duga 1540 30’ B, kira-kira pkl 20.10ZT diadakan pengamatan* pada ppw =07.20.26. Duduk pada 19 GMT, 17 Januari = (+) 0.11.28. Langkah harian = (+) 3,0 sekon

Hitunglah GMT dan tanggal ketika pengamatan tersebut!  

 

 

 

Jawab :

           ZT di kapal                          =       20.10.00     20 Januari

            ZD                                       = (+) 10

            GMT duga                          =       06.10.00     21 Januari

            ppw                                     =   07.20.26

            Ddk 19 GMT,17Jan           =(+)0.11.18

            GMT mendekati                =   07.31.44          21 Januari

            Lalu 3 12/24 hr x (+)3s      = (+)       10,5

            GMT                                  =   07.31.54,5      21 Januari   

 


Diskusi / Komentar

Kirimkan komentar

Informasi

Dibaca: 36207
Disukai:
Diunggah : 15-01-2019


Penulis

Dwi

Penyusun